“Saya menulis buku ini bukan karena saya orang yang paling sering Umroh. Bukan pula karena punya kelebihan rezeki. Tapi karena saya tahu rasanya rindu ke Tanah Suci.”
“Ya Allah, bolehkah aku kembali lagi tahun depan…?”
Itu doa Mas Ali di depan Ka’bah. Awalnya dia juga menganggap Umroh Ramadhan itu mewah. Tabungannya kadang cuma Rp50.000 seminggu, kadang nol, tapi dia tidak berhenti. Titik baliknya datang saat dia berada di lingkungan yang setiap hari membicarakan jalan pulang ke Tanah Suci.
Allah menjawab doanya: tiga kali Umroh Ramadhan, berturut-turut. “Bukan karena saya kaya. Tapi karena saya niat, dan saya ada di lingkungan yang menguatkan niat itu.”
